Sabtu, 26 Juli 2014

Ayah, Cinta Yang Terabaikan

Ayah, Cinta Yang Terabaikan
          Ini adalah sepenggal kisah yang mengingatkan kita tentang cinta seorang ayah, khususnya bagi seorang anak perempuan. Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, anak perempuan yang sedang di perantauan, anak perempuan yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, anak perempuan yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orangtuanya, akan sering merasa kangen sekali dengan ibunya.
          Lalu bagaimana dengan ayah? Mungkin karena ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata ayahlah yang mengingatkan ibu untuk meneleponmu?
          Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, ibulah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang ayah bekerja dan dengan wajah lelah ayah selalu menanyakan pada ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
          Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil, ayah biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah ayah menganggapmu bisa, ayah akan melepas roda bantu di sepedamu. Kemudian ibu berkata :

“Jangan dulu ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya”

          Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka. Tapi sadarkah kamu? Bahwa ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu malaikat kecilnya PASTI BISA.
          Pada saat kamu menangis meminta boneka atau mainan yang baru, ibu menatapmu iba. Tetapi ayah akan dengan tegas mengatakan :

“Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”

          Tahukah kamu, ayah melakukan itu karena ayah tidak ingin kami menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
          Saat kamu sakit pilek, ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :

“Sudah di bilang! Kamu jangan minum air dingin!”

          Berbeda dengan ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
          Ketika kamu sudah beranjak remaja, kamu mulai menuntut pada ayah untuk dapat izin keluar malam, dan ayah bersikap tegas dan mengatakan :

“Tidak boleh!”

          Tahukah kamu, bahwa ayah melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi ayah, kamu adalah sesuatu yang luar biasa berharga. Setelah itu kamu marah pada ayah dan masuk ke kamar sambil membanting pintu. Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah ibu. Tahukah kamu, bahwa saat itu ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
          Ketika saat seorang cowok mulai sering meneleponmu atau bahkan datang ke rumahmu, ayah akan memasang wajah paling cool sedunia. Ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang berbicara berdua di ruang tamu. Sadarkah kamu, kalau hati ayah merasa cemburu?
          Saat kamu mulai lebih di percaya, dan ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. Maka yang dilakukan ayah adalah duduk di ruang tamu dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir. Dan saat perasaan khawatir itu begitu larut, ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati ayah akan mengeras dan ayah memarahimu. Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang sangat ditakutinya akan segera datang? Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan ayah.
          Setelah lulus SMA, ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi dokter atau ilmuwan. Ketahuilah bahwa seluruh paksaan yang dilakukan ayah itu hanya karena ia memikirkan masa depanmu nanti. Tapi ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tak sesuai dengan keinginannya.
          Ketika kamu menjadi gadis dewasa dan harus pergi kuliah di kota lain, ayah harus melepasmu di bandara. Tahukah kamu, badahn ayah terasa kaku untuk memelekmu? Ayah hanya tersenyum sambil memberi banyak nasihat dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal ayah ingin sekali menangis seperti ibu dan mendekapmu erat-erat. Tapi yang ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya dan menepuk pundakmu sambil berkata :

“Jaga dirimu baik-baik ya sayang…”

          Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT untuk pergi dan menjadi dewasa. Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah ayah. Ayah berusaha keras mencari jalan agar anaknya bias merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
          Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar mainan baru dan ayah tidak bias memberikan yang kamu inginkan, kata-kata yang keluar dari multu ayah adalah :
“Tidak.. tidak bisa!”

Padahal dalam batin ayah, ia sangat ingin mengatakan :

“Iya sayang, nanti akan ayah belikan untukmu”

Tahukah kamu bahwa saat itu ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
          Saat kamu diwisuda sebagai seorang sarjana, ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan paling keras untukmu. Ayah akan tersenyum puas dan bahagia melihat malaikat kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa dan telah menjadi seseorang yang dibanggakannya.
          Sampai saat seorang lelaki datang ke rumah dan meminta izin pada ayah untuk mengambilmu darinya, ayah akan sangat berhati-hati memberi izin. Karena ayah tahu bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
          Dan akhirnya, saat ayah melihatmu duduk di panggung pelaminan bersama seorang lelaki yang dianggap pantas menggantikannya, ayah pun tersenyum bahagia. Apakah kamu mengetahui bahwa di hari yang bahagia itu ayah pergi kebelakang panggung sebentar dan menangis? Ayah menangis karena sangat berbahagia, kemudian disana ayah berdoa dengan lirih kepada Tuhan :

“Ya Allah, Ya Tuhanku… putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita dewasa yang cantik. Bahagiakanlah ia bersama suaminya”

          Setelah itu ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk ayah yang telah menyelesaikan tugasnya menjagamu.

          Ayah, Abah, Papa, Papi, Abi, Bapak atau apapun panggilan kita untuknya, adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis. Dia harus selalu terlihat tegas bahkan saat ia ingin memanjakanmu. Dia adalah orang pertama yang selalu yakin bahwa kamu PASTI BISA dalam segala hal.
          Jika ayah masih di samping kita, datangilah lalu peluk ia dan katakan padanya kalau kamu mencintainya. Jika ayah jauh darimu, hubungi ia dan katakan kalau kamu sangat merindukannya. Namun, jika ayah telah tiada, do’akanlah ia selalu agar mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.

          

Cerpen (Ilusi Jembatan Bhosporus)

Ilusi Jembatan Bhosporus


   Seorang gadis manis tampak berjalan menyusuri sebuah jembatan yang menghubungkan dua benua, Asia dan Eropa. Jembatan itu adalah Jembatan Bhosporus. Blues coklat yang di padukan dengan celana jeans biru tampak sangat cocok dengan tas kecil yang disandangkan di bahunya. Rambut hitam panjangnya di gelung tinggi di atas kepalanya. Saat ia sedang berjalan, tiba-tiba saja seorang anak laki-laki datang menghampirinya. Wajah anak laki-laki itu tampak sangat pucat.

“Orang Indonesia?” Tanya anak laki-laki itu. “Ya, kok kamu tau?” gadis itu bertanya balik.

“Ya, tas yang kamu pakai bercorak batik, ciri khas Indonesia,” jawab anak laki-laki itu.

“Hanya dengan melihat tas bercorak batik kamu segitu yakinnya aku orang Indonesia, padahal bisa aja kan aku turis asing yang kebetulan pernah ke Indonesia, membeli tas ini, lalu kemari dan memakai tas ini, bisa aja kan?” sela gadis itu.

“Ya, gak gitu juga sih. Hanya feeling! Tapi tebakanku benar kan?” Tanya anak laki-laki itu lagi.

“Ya, hanya feeling, kalimat itu sudah sering kudengar. Namaku Adysa, kamu?” Adysa menjulurkan tangannya.

“Aku Azzam, mau jalan-jalan bersama?” ajak anak laki-laki yang ternyata bernama Azzam itu. “Boleh, yuk!”

   Mereka berjalan bersama melewati selat Bhosporus dan mengunjungi salah satu museum di sana. Topkapi Museum namanya. Memang museum itu tidak terlalu megah tapi cukup indah untuk mengenang masa kejayaan Islam tempo dulu.

“Pulang yuk, aku antar ke hotel,” tawar Azzam yang terlihat sangat lemah. 

“Gak apa nih, kelihatannya muka kamu pucat banget, kamu sakit?” Tanya Adysa melihat kondisi Azzam.

“Aku gak apa-apa kok, yuk,” kata Azzam meyakinkan Adysa. Akhirnya, Adysa menuruti keinginan Azzam. Sesampainya di lobi hotel, Adysa ,mengucapkan terimakasih.

“Thank’s ya,” ucap Adysa. 

“Sama-sama, thank’s juga ya buat hari ini,” sahut Azzam.

 “Ini alamat aku di Indonesia, kapan-kapan berkunjung ya,” kata Azzam sambil menyerahkan sebuah kertas yang berisi alamatnya di Indonesia.

“Waw, di Jakarta juga. Kapan-kapan aku berkunjung deh”, sahut Adysa menerima kertas yang diberikan Azzam. 

“Aku masuk dulu ya,” kata Adysa lagi. 

“Ya, aku juga mau pulang,” Azzam melambaikan tangannya ke arah Adysa, “Setelah ini kita gak akan bisa bertemu lagi. Alamat itu akan memberikan  sebuah kebenaran,” Azzam berbicara dengan sangat pelan sehingga Adysa tidak dapat mendengarnya. Kebenaran, maksudnya? Entahlah!

   Dua minggu setelah pertemuan itu, Adysa sudah kembali ke Indonesia. Kebetulan hari itu adalah hari Minggu. Adysa memutuskan untuk mengunjungi Azzam. Tak lupa ia membawa alamat yang di berikan Azzam. Ternyata, jarak rumah mereka tidak begitu jauh. Hanya sekitar tiga blok dari rumah Adysa lalu belok ke kiri dan di ujung jalan itulah rumah Azzam. Adysa pergi dengan mengendarai sepada pink kesayangannya. Baru sekitar beberapa kali ia mengayuh sepedanya, kertas yang di pegang Adysa terbang.

“Yah… yah… kertasnya,” jerit Adysa sambil berusaha menggapai kertas yang diterbangkan angin itu. Tapi usaha Adysa sia-sia. Untung saja Adysa sempat mengingat sedikit isi kertas itu. Bermodal nekat dan feeling, Adysa meneruskan perjalanannya.

“Sampai juga,” kata Adysa saat sampai di sebuah rumah. “Bener gak ya ini rumahnya?” batin Adysa ragu, “ketuk aja dulu deh, feeling aku sih bener ini rumahnya”.

   Adysa mengetuk pintu rumah tersebut. Seorang wanita paruh baya keluar dari pintu. “Maaf, kamu siapa ya?” Tanya wanita tersebut. 

“Saya Adysa, Tante. Azzamnya ada?” jawab Adysa.

“Kamu temen sekolahnya Azzam? Saya Tante Widya, mamanya Azzam,” wanita itu tersenyum kearah Adysa. 

“Bukan tante, saya bertemu Azzam dua minggu yang lalu di Turki,” sahut Adysa.

“Ddduu… ddu… ddua minggu yang lalu?” ucap tante Widya gelagapan. 

“Iya tante, dua minggu yang lalu. Memangnya kenapa tante?” Tanya Adysa.

   Mendengar jawaban Adysa, raut wajah Tante Widya berubah menjadi sedih. Ternyata, Azzam menderita lumpuh otak sejak delapan bulan lalu. Sebulan yang lalu, keadaannya memburuk dan ia di bawa ke Eropa. Setelah tim dokter berusaha keras, Azzam menghembuskan nafasnya yang terakhir dua minggu lalu, tepat di waktu ia dan Adysa bertemu.

“Tante gak bohong kan?” sahut Adysa tak percaya. 

“Gak sayang, tante gak bohong. Sebelum ia meninggal, ia sempat bilang ingin bertemu seseorang di Jembatan Bhosporus. Namun, karena keadaannya yang tidak memungkinkan, tante tidak mengizinkannya. Tante gak menyangka kalau ternyata ia menemui kamu disana walau dalam sosok yang tak berwujud,” Tante Widya menangis.

“Boleh aku tau Azzam dimakamkan dimana?” Tanya Adysa lagi.

“Boleh sayang, tante antar ya,” tante Widya menyetujui permintaan Adysa. Mereka pergi ke pemakaman Azzam.

   Ternyata, inilah kebenaran yang dimaksud Azzam. Sesampainya disana, Adysa menaruh bucket bunga pir yang tadi sempat dibelinya. Tahukah kau apa artinya? Ya, bunga pir berarti sahabat selamanya.

“Kita pulang yuk, sayang. Biarkan Azzam beristirahat tenang. Tante yakin, bertemu kamu di Jembatan Bhosporus adalah kenangan terindah baginya,” ajak tante Widya. Adysa hanya mengangguk. Tante Widya merangkul bahu Adysa dan membantunya berdiri. 

   Saat hendak masuk ke mobil, Adysa berbalik badan dan menatap ke arah makam Azzam dengan tatapan kosong. Tiba-tiba saja, ia tersenyum dan melambaikan tangannya.

“Selamat jalan Azzam, aku takkan melupakanmu,” Adysa berbisik pada angin. Berharap angin akan menyampaikan pesannya pada Azzam di atas sana. Sementara itu, tante Widya hanya tersenyum lalu menarik tangan Adysa memasuki mobil.

   Ssssttt…. tanpa sepengetahuan mereka ternyata sesosok bayangan menatap mereka sambil tersenyum dari balik sebuah pohon. Bayangan itu melambaikan tangannya ke arah Adysa. 

“Aku juga tidak akan melupakanmu, Adysa,” ucap bayangan itu lalu perlahan menghilang mengikuti hembusan angin dari balik pohon.