Ilusi
Jembatan Bhosporus
Seorang gadis manis tampak berjalan menyusuri sebuah
jembatan yang menghubungkan dua benua, Asia dan Eropa. Jembatan itu adalah
Jembatan Bhosporus. Blues coklat yang di padukan dengan celana jeans biru
tampak sangat cocok dengan tas kecil yang disandangkan di bahunya. Rambut hitam
panjangnya di gelung tinggi di atas kepalanya. Saat ia sedang berjalan,
tiba-tiba saja seorang anak laki-laki datang menghampirinya. Wajah anak laki-laki
itu tampak sangat pucat.
“Orang Indonesia?” Tanya anak
laki-laki itu. “Ya, kok kamu tau?” gadis itu bertanya balik.
“Ya, tas yang kamu pakai bercorak
batik, ciri khas Indonesia,” jawab anak laki-laki itu.
“Hanya dengan melihat tas bercorak batik kamu
segitu yakinnya aku orang Indonesia, padahal bisa aja kan aku turis asing yang
kebetulan pernah ke Indonesia, membeli tas ini, lalu kemari dan memakai tas
ini, bisa aja kan?” sela gadis itu.
“Ya,
gak gitu juga sih. Hanya feeling! Tapi tebakanku benar kan?” Tanya anak
laki-laki itu lagi.
“Ya,
hanya feeling, kalimat itu sudah sering kudengar. Namaku Adysa, kamu?” Adysa
menjulurkan tangannya.
“Aku Azzam, mau jalan-jalan bersama?” ajak anak
laki-laki yang ternyata bernama Azzam itu. “Boleh, yuk!”
Mereka
berjalan bersama melewati selat Bhosporus dan mengunjungi salah satu museum di
sana. Topkapi Museum namanya. Memang museum itu tidak terlalu megah tapi cukup
indah untuk mengenang masa kejayaan Islam tempo dulu.
“Pulang
yuk, aku antar ke hotel,” tawar Azzam yang terlihat sangat lemah.
“Gak apa nih,
kelihatannya muka kamu pucat banget, kamu sakit?” Tanya Adysa melihat kondisi
Azzam.
“Aku gak apa-apa kok, yuk,” kata Azzam meyakinkan Adysa. Akhirnya, Adysa
menuruti keinginan Azzam. Sesampainya di lobi hotel, Adysa ,mengucapkan terimakasih.
“Thank’s
ya,” ucap Adysa.
“Sama-sama, thank’s juga ya buat hari ini,” sahut Azzam.
“Ini
alamat aku di Indonesia, kapan-kapan berkunjung ya,” kata Azzam sambil
menyerahkan sebuah kertas yang berisi alamatnya di Indonesia.
“Waw, di Jakarta juga.
Kapan-kapan aku berkunjung deh”, sahut Adysa menerima kertas yang diberikan
Azzam.
“Aku masuk dulu ya,” kata Adysa lagi.
“Ya, aku juga mau pulang,” Azzam
melambaikan tangannya ke arah Adysa, “Setelah ini kita gak akan bisa bertemu
lagi. Alamat itu akan memberikan sebuah
kebenaran,” Azzam berbicara dengan sangat pelan sehingga Adysa tidak dapat
mendengarnya. Kebenaran, maksudnya? Entahlah!
Dua minggu setelah
pertemuan itu, Adysa sudah kembali ke Indonesia. Kebetulan hari itu adalah hari
Minggu. Adysa memutuskan untuk mengunjungi Azzam. Tak lupa ia membawa alamat
yang di berikan Azzam. Ternyata, jarak rumah
mereka tidak begitu jauh. Hanya sekitar tiga blok dari rumah Adysa lalu belok
ke kiri dan di ujung jalan itulah rumah Azzam. Adysa pergi dengan mengendarai
sepada pink kesayangannya. Baru sekitar beberapa kali ia mengayuh sepedanya,
kertas yang di pegang Adysa terbang.
“Yah… yah… kertasnya,”
jerit Adysa sambil berusaha menggapai kertas yang diterbangkan angin itu. Tapi usaha Adysa sia-sia. Untung saja Adysa
sempat mengingat sedikit isi kertas itu. Bermodal nekat dan feeling, Adysa meneruskan perjalanannya.
“Sampai juga,” kata
Adysa saat sampai di sebuah rumah. “Bener gak ya ini rumahnya?” batin Adysa
ragu, “ketuk aja dulu deh, feeling aku sih bener ini rumahnya”.
Adysa mengetuk pintu
rumah tersebut. Seorang wanita paruh baya keluar dari pintu. “Maaf, kamu siapa
ya?” Tanya wanita tersebut.
“Saya Adysa, Tante. Azzamnya ada?” jawab Adysa.
“Kamu temen sekolahnya Azzam? Saya Tante Widya,
mamanya Azzam,” wanita itu tersenyum kearah Adysa.
“Bukan tante, saya bertemu
Azzam dua minggu yang lalu di Turki,” sahut Adysa.
“Ddduu… ddu… ddua minggu
yang lalu?” ucap tante Widya gelagapan.
“Iya tante, dua minggu yang lalu.
Memangnya kenapa tante?” Tanya Adysa.
Mendengar jawaban Adysa,
raut wajah Tante Widya berubah menjadi sedih. Ternyata, Azzam menderita lumpuh
otak sejak delapan bulan lalu. Sebulan yang lalu, keadaannya memburuk dan ia di
bawa ke Eropa. Setelah tim dokter berusaha keras, Azzam menghembuskan nafasnya
yang terakhir dua minggu lalu, tepat di waktu ia dan Adysa bertemu.
“Tante gak bohong kan?”
sahut Adysa tak percaya.
“Gak sayang, tante gak bohong. Sebelum ia
meninggal, ia sempat bilang ingin bertemu seseorang di Jembatan Bhosporus.
Namun, karena keadaannya yang tidak memungkinkan, tante tidak mengizinkannya.
Tante gak menyangka kalau ternyata ia menemui kamu disana walau dalam sosok
yang tak berwujud,” Tante Widya menangis.
“Boleh aku tau Azzam
dimakamkan dimana?” Tanya Adysa lagi.
“Boleh
sayang, tante antar ya,” tante Widya menyetujui permintaan Adysa. Mereka pergi
ke pemakaman Azzam.
Ternyata, inilah
kebenaran yang dimaksud Azzam. Sesampainya disana, Adysa menaruh bucket bunga
pir yang tadi sempat dibelinya. Tahukah kau apa artinya? Ya, bunga pir berarti
sahabat selamanya.
“Kita pulang yuk,
sayang. Biarkan Azzam beristirahat tenang. Tante yakin, bertemu kamu di
Jembatan Bhosporus adalah kenangan terindah baginya,” ajak tante Widya. Adysa
hanya mengangguk. Tante Widya merangkul bahu Adysa dan membantunya berdiri.
Saat hendak masuk ke
mobil, Adysa berbalik badan dan menatap ke arah makam Azzam dengan tatapan
kosong. Tiba-tiba saja, ia tersenyum dan melambaikan tangannya.
“Selamat jalan
Azzam, aku takkan melupakanmu,” Adysa berbisik pada angin. Berharap angin akan
menyampaikan pesannya pada Azzam di atas sana. Sementara itu, tante Widya hanya
tersenyum lalu menarik tangan Adysa memasuki mobil.
Ssssttt…. tanpa
sepengetahuan mereka ternyata sesosok bayangan menatap mereka sambil tersenyum
dari balik sebuah pohon. Bayangan itu melambaikan tangannya ke arah Adysa.
“Aku
juga tidak akan melupakanmu, Adysa,” ucap bayangan itu lalu perlahan menghilang
mengikuti hembusan angin dari balik pohon.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar