Sabtu, 26 Juli 2014

Cerpen (Ilusi Jembatan Bhosporus)

Ilusi Jembatan Bhosporus


   Seorang gadis manis tampak berjalan menyusuri sebuah jembatan yang menghubungkan dua benua, Asia dan Eropa. Jembatan itu adalah Jembatan Bhosporus. Blues coklat yang di padukan dengan celana jeans biru tampak sangat cocok dengan tas kecil yang disandangkan di bahunya. Rambut hitam panjangnya di gelung tinggi di atas kepalanya. Saat ia sedang berjalan, tiba-tiba saja seorang anak laki-laki datang menghampirinya. Wajah anak laki-laki itu tampak sangat pucat.

“Orang Indonesia?” Tanya anak laki-laki itu. “Ya, kok kamu tau?” gadis itu bertanya balik.

“Ya, tas yang kamu pakai bercorak batik, ciri khas Indonesia,” jawab anak laki-laki itu.

“Hanya dengan melihat tas bercorak batik kamu segitu yakinnya aku orang Indonesia, padahal bisa aja kan aku turis asing yang kebetulan pernah ke Indonesia, membeli tas ini, lalu kemari dan memakai tas ini, bisa aja kan?” sela gadis itu.

“Ya, gak gitu juga sih. Hanya feeling! Tapi tebakanku benar kan?” Tanya anak laki-laki itu lagi.

“Ya, hanya feeling, kalimat itu sudah sering kudengar. Namaku Adysa, kamu?” Adysa menjulurkan tangannya.

“Aku Azzam, mau jalan-jalan bersama?” ajak anak laki-laki yang ternyata bernama Azzam itu. “Boleh, yuk!”

   Mereka berjalan bersama melewati selat Bhosporus dan mengunjungi salah satu museum di sana. Topkapi Museum namanya. Memang museum itu tidak terlalu megah tapi cukup indah untuk mengenang masa kejayaan Islam tempo dulu.

“Pulang yuk, aku antar ke hotel,” tawar Azzam yang terlihat sangat lemah. 

“Gak apa nih, kelihatannya muka kamu pucat banget, kamu sakit?” Tanya Adysa melihat kondisi Azzam.

“Aku gak apa-apa kok, yuk,” kata Azzam meyakinkan Adysa. Akhirnya, Adysa menuruti keinginan Azzam. Sesampainya di lobi hotel, Adysa ,mengucapkan terimakasih.

“Thank’s ya,” ucap Adysa. 

“Sama-sama, thank’s juga ya buat hari ini,” sahut Azzam.

 “Ini alamat aku di Indonesia, kapan-kapan berkunjung ya,” kata Azzam sambil menyerahkan sebuah kertas yang berisi alamatnya di Indonesia.

“Waw, di Jakarta juga. Kapan-kapan aku berkunjung deh”, sahut Adysa menerima kertas yang diberikan Azzam. 

“Aku masuk dulu ya,” kata Adysa lagi. 

“Ya, aku juga mau pulang,” Azzam melambaikan tangannya ke arah Adysa, “Setelah ini kita gak akan bisa bertemu lagi. Alamat itu akan memberikan  sebuah kebenaran,” Azzam berbicara dengan sangat pelan sehingga Adysa tidak dapat mendengarnya. Kebenaran, maksudnya? Entahlah!

   Dua minggu setelah pertemuan itu, Adysa sudah kembali ke Indonesia. Kebetulan hari itu adalah hari Minggu. Adysa memutuskan untuk mengunjungi Azzam. Tak lupa ia membawa alamat yang di berikan Azzam. Ternyata, jarak rumah mereka tidak begitu jauh. Hanya sekitar tiga blok dari rumah Adysa lalu belok ke kiri dan di ujung jalan itulah rumah Azzam. Adysa pergi dengan mengendarai sepada pink kesayangannya. Baru sekitar beberapa kali ia mengayuh sepedanya, kertas yang di pegang Adysa terbang.

“Yah… yah… kertasnya,” jerit Adysa sambil berusaha menggapai kertas yang diterbangkan angin itu. Tapi usaha Adysa sia-sia. Untung saja Adysa sempat mengingat sedikit isi kertas itu. Bermodal nekat dan feeling, Adysa meneruskan perjalanannya.

“Sampai juga,” kata Adysa saat sampai di sebuah rumah. “Bener gak ya ini rumahnya?” batin Adysa ragu, “ketuk aja dulu deh, feeling aku sih bener ini rumahnya”.

   Adysa mengetuk pintu rumah tersebut. Seorang wanita paruh baya keluar dari pintu. “Maaf, kamu siapa ya?” Tanya wanita tersebut. 

“Saya Adysa, Tante. Azzamnya ada?” jawab Adysa.

“Kamu temen sekolahnya Azzam? Saya Tante Widya, mamanya Azzam,” wanita itu tersenyum kearah Adysa. 

“Bukan tante, saya bertemu Azzam dua minggu yang lalu di Turki,” sahut Adysa.

“Ddduu… ddu… ddua minggu yang lalu?” ucap tante Widya gelagapan. 

“Iya tante, dua minggu yang lalu. Memangnya kenapa tante?” Tanya Adysa.

   Mendengar jawaban Adysa, raut wajah Tante Widya berubah menjadi sedih. Ternyata, Azzam menderita lumpuh otak sejak delapan bulan lalu. Sebulan yang lalu, keadaannya memburuk dan ia di bawa ke Eropa. Setelah tim dokter berusaha keras, Azzam menghembuskan nafasnya yang terakhir dua minggu lalu, tepat di waktu ia dan Adysa bertemu.

“Tante gak bohong kan?” sahut Adysa tak percaya. 

“Gak sayang, tante gak bohong. Sebelum ia meninggal, ia sempat bilang ingin bertemu seseorang di Jembatan Bhosporus. Namun, karena keadaannya yang tidak memungkinkan, tante tidak mengizinkannya. Tante gak menyangka kalau ternyata ia menemui kamu disana walau dalam sosok yang tak berwujud,” Tante Widya menangis.

“Boleh aku tau Azzam dimakamkan dimana?” Tanya Adysa lagi.

“Boleh sayang, tante antar ya,” tante Widya menyetujui permintaan Adysa. Mereka pergi ke pemakaman Azzam.

   Ternyata, inilah kebenaran yang dimaksud Azzam. Sesampainya disana, Adysa menaruh bucket bunga pir yang tadi sempat dibelinya. Tahukah kau apa artinya? Ya, bunga pir berarti sahabat selamanya.

“Kita pulang yuk, sayang. Biarkan Azzam beristirahat tenang. Tante yakin, bertemu kamu di Jembatan Bhosporus adalah kenangan terindah baginya,” ajak tante Widya. Adysa hanya mengangguk. Tante Widya merangkul bahu Adysa dan membantunya berdiri. 

   Saat hendak masuk ke mobil, Adysa berbalik badan dan menatap ke arah makam Azzam dengan tatapan kosong. Tiba-tiba saja, ia tersenyum dan melambaikan tangannya.

“Selamat jalan Azzam, aku takkan melupakanmu,” Adysa berbisik pada angin. Berharap angin akan menyampaikan pesannya pada Azzam di atas sana. Sementara itu, tante Widya hanya tersenyum lalu menarik tangan Adysa memasuki mobil.

   Ssssttt…. tanpa sepengetahuan mereka ternyata sesosok bayangan menatap mereka sambil tersenyum dari balik sebuah pohon. Bayangan itu melambaikan tangannya ke arah Adysa. 

“Aku juga tidak akan melupakanmu, Adysa,” ucap bayangan itu lalu perlahan menghilang mengikuti hembusan angin dari balik pohon.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar